Kamis, 18 Desember 2008

22053853

Definisi Testing

  • Menurut Hetzel 1973: proses pemantapan kepercayaan akan kinerja program atau sistem sebagaimana yang diharapkan.
  • Menurut Myers 1979: proses eksekusi program atau sistem secara intens untuk menemukan error.
  • Menurut Hetzel 1983 (Revisi): tiap aktivitas yang digunakan untuk dapat melakukan evaluasi suatu atribut atau kemampuan dari program atau sistem dan menentukan apakah telah memenuhi kebutuhan atau hasil yang diharapkan.
  • Menurut Standar ANSI/IEEE 1059: proses menganalisa suatu entitas software untuk mendeteksi perbedaan antara kondisi yang ada dengan kondisi yang diinginkan ( defects / errors / bugs ) dan mengevaluasi fitur- fitur dari entitas software.

Definisi Testing Software

  • Testing software adalah proses mengoperasikan software dalam suatu kondisi yang dikendalikan, untuk verifikasi apakah telah berlaku sebagaimana telah ditetapkan, validasi apakah spesifikasi yang telah ditetapkan sudah memenuhi keinginan atau kebutuhan dari pengguna yg sebenarnya.
  • Verifikasi adalah pengecekan atau pengetesan entitas-entitas, termasuk software untuk pemenuhan dan konsistensi dengan melakukan evaluasi hasil terhadap kebutuhan yang telah ditetapkan. ( Are we building the system right?)
  • Validasi melihat kebenaran system, apakah proses yang telah ditulis dalam spesifikasi adalah apa yang sebenarnya diinginkan atau dibutuhkan oleh pengguna.( Are we building the right system?)
  • Deteksi error: Testing seharusnya berorientasi untuk membuat kesalahan secara intensif, untuk menentukan apakah suatu hal tersebut terjadi bilamana tidak seharusnya terjadi atau suatu hal tersebut tidak terjadi dimana seharusnya mereka ada.

Strategi Testing

  • Strategi testing software mengintegrasikan metode - metode disain test cases software ke dalam suatu rangkaian tahapan yang terencana dengan baik sehingga pengembangan software dapat berhasil.
  • Strategi menyediakan peta yang menjelaskan tahap - tahap yang harus dilakukan sebagai bagian dari testing, dan membutuhkan usaha, waktu, dan sumber daya bilamana tahap - tahap ini direncanakan dan dilaksanakan.
  • Strategi testing harus menjadi satu kesatuan dengan perencanaan tes, disain test case , ekesekusi tes, dan pengumpulan serta evaluasi data hasil testing.
  • Strategi testing software harus cukup fleksibel untuk dapat mengakomodasi kustomisasi pendekatan testing. Pada saat yang bersamaan, harus juga cukup konsisten dan tegas agar dapat melakukan perencanaan yang masuk akal dan dapat melakukan manajemen perkembangan kinerja proyek.

Pendekatan Strategi Testing

  • Sejumlah strategi testing software diadakan untuk menyediakan kerangka testing bagi pengembang software dengan karekteristik umum sebagai berikut:
  1. Testing dimulai dari tingkat komponen terkecil sampai pada integrasi antar komponen pada keseluruhan sistem komputer tercapai.
  2. Teknik testing berbeda - beda sesuai dengan waktu penggunaannya.
  3. Testing dilakukan oleh pengembang software dan (untuk proyek besar) dilakukan oleh suatu grup tes yang independen.
  4. Testing dan debugging adalah aktifitas yang berlainan, tapi debugging harus diakomodasi disetiap strategi testing.

Unit Testing

  • Unit testing berfokus pad usaha verifikasi pada unit terkecil dari disain software – komponen atau modul software.
  • Penggunaan diskripsi disain tingkat komponen sebagai tuntunan, jalur kendali yang penting dites untuk menemukan errors , terbatas pada modul tersebut.
  • Kompleksitas relatif terhadap tes dan errors yang dicakup dibatasi oleh batasan - batasan dari cakupan yang telah ditetapkan pada unit testing .
  • Unit testing berorientasi white box , dan tahapan dapat dilakukan secara paralel pada banyak komponen.

Implementasi dari Unit testing

Untuk memastiakan kebenaran dari algoritma atau kode yang dibuat diperlukan proses testing dan pada kesempatan ini akan dibahas lebih lanjut implementasi unit testing menggunakan JUnit. JUnit ditulis oleh Erich Gamma dan Kent Beck sebagai sebuah open source. JUnit adalah standard tidak langsung sebagai pustaka pengujian untuk bahasa Bahasa. Dari pustaka ini pula, muncul komunitas-komunitas pengembang yang menurunkan JUnit untuk bahasa pemrograman lain, seperti untuk .NET yang disebut sebagai NUnit (http://www.nunit.org), PHPUnit (http://www.phpunit.de) untuk bahasa PHP dan JSUnit (http://www.jsunit.net) untuk bahasa JavaScript. JUnit merupakan satu framework untuk melakukan testing aplikasi java dan dapat didownload dalam bentuk “jar” di link di bawah ini :

(http://sourceforge.net/project/showfiles.php?group_id=15278&package_id=12472).

Contoh penerapan JUnit

Langkah pertama yang mesti dilakukan adalah dengan mendownload file JUnit pada link yang tertera diatas kemudian extract file JUnit dimanapun terserah anda contoh extract di desktop asalkan jangan extract di direktori Java_Home atau direktori instalasi Java. Langkah berikut set classpath untuk JUnit ini yang dapat anda lakukan pada klik kanan My Computer à advanced à Enviroment Variables kemudian masukan classpathnya disana. Selanjutnya tinggal membuat class untuk testing yang biasaanya memiliki format sebagai berikut :

import junit.framework.TestCase;
public class NamaClass_Test extends TestCase {
public NamaClass_Test(String name) {
super(name);
}
public void testSesuatu() {
// assert disini
}
public void testSesuatuLagi() {
// assert disana
}
public void testSesuatuLainnya() {
// assert dimana-mana
}

}

Buat sebuah class yang akan dipakan untuk unit testing, misalnya simpel1 :

public class simple1 {

private String pesan;

private int angka;

public int getAngka() {

return angka;

}

public void setAngka(int angka) {

this.angka = angka;

}

public void setPesan(String pesan) {

this.pesan = pesan;

}

public String getPesan() {

return pesan;

}

public String tentukanGenapGanjil(int angka){

this.angka = angka;

if(this.angka % 2 == 0){

setPesan("genap");

}else{

setPesan("ganjil");

}

return this.pesan;

}

}

Class ini terdiri dari dua variable pesan dan angka beserta method getter dan setternya ditambah satu method untuk menentukan genap dan ganjil.

Buat class untuk melakukan unit testing dalam hal ini diberi nama testSimpel1 :

import junit.framework.TestCase;

public class testSimple1 extends TestCase {

simple1 sim = new simple1();

public testSimple1(String name) {

super(name);

}

public void testGanjilGenap(){

int ganjil = 1;

assertEquals("test ganjil genap", "ganjil", sim.tentukanGenapGanjil(ganjil));

}

public void testGetAngka(){

sim.setAngka(5);

assertEquals("test get", 5, sim.getAngka());

}

public static void main(String[] args) {

junit.textui.TestRunner.run(testSimple1.class);

}

}

Untuk membuat class unit test, dibuat satu class yang meng inherit class TestCase dari framework JUnit, kemudian class tersebut harus melakukan Overriding dari constructor super classnya.

Pada method testGanjilGenap(), yang dites adalah method tentukanGanjilGenap dari class simple1. Diberikan sebuah integer ganjil 1, di test apakah method tentukanGanjilGenap() mengembalikan nilai yang semestinya (yaitu ganjil). Method yang dipakai adalah assertEquals(). Ada 3 parameter yang dimasukan antara lain :

  • Pesan testing
  • Nilai yang diharapkan
  • Nilai hasil eksekusi

Nilai yang diharapkan akan keluar adalah ganjil, hasil dari eksekusi method sim.tentukanGenapGanjil(ganjil) dimana variable ganjil diberi nilai 1.

Pada method testGetAngka() yang dites adalah getter dari variable angka pada class simple1. Diberikan nilai 5, dicek apakah getter mengeluarkan nilai yang sama dan langkah terakhir adalah membuat main method. Untuk melakukan testing, dipanggil method junit.textui.TestRunner.run(); dengan parameter file class dari testSimple1.

Jika output dari program seperti dibawah ini maka proses testing berhasil dilewati oleh class simple1 dengan sukses karena method yang digunakan pada test case sudah mengembalikan nilan sesuai dengan harapan.

Time: 0

OK (2 tests)

Daftar Pustaka

http://www.mikroskil.ac.id/~roni/TIS/TIS1.pdf

http://www.mikroskil.ac.id/~roni/TIS/TIS14.pdf

http://wilbertjava.wordpress.com/2008/03/27/menggunakan-junit-untuk-tes-unit-part-1/

Senin, 08 Desember 2008

22043701

Internet based Construction PROJECT Quality Management System
S Thomas Ng
Hong Kong University
tstng@hkucc.hku.hk
R Martin Skitmore
Queensland University of Technology, Australia
rm.skitmore@qut.edu.au



Pendahuluan
Pembangunan industri juga dikenali dengan waktu / biaya dan overruns miskin kinerja,
dan ini dapat ditelusuri kembali ke kesalahan / kesalahan yang dilakukan selama pengiriman barang dan
layanan (Deming, 1982). Salah satu tanggapan ini telah untuk konstruksi organisasi untuk
pindah dari tradisional 'api' pendekatan (Abdul Rahman, 1996) untuk lebih
formal Manajemen Mutu (QM) sistem untuk merencanakan, memantau dan kontrol mereka produksi
proses (CIRIA, 1987; Latham, 1994; ia dkk, 2001; Cheng et al 2002). Hal ini sejalan
dengan standar ISO9000 terbaru, yang juga menekankan kepuasan pelanggan dan
perbaikan terus menerus (Murphy, 2002). Namun, saat ini konstruksi proyek praktek
dari QM, yang berfokus pada memenuhi prosedur yang telah ditetapkan (ditetapkan oleh organisasi itu sendiri),
jauh dari sempurna dan konstruksi industri peneliti (misalnya Seymour dan rendah, 1990;
Rendah, 1993; Abdul-Rahman, 1996; Moatazed-Keivani dkk, 1999; Serpell, 1999) telah
disorot sejumlah faktor, seperti birokrasi yang tidak perlu, kertas kerja yang berlebihan,
kurangnya integrasi dengan kegiatan pengelolaan proyek lain, gerah dari inovasi, dll,
inhibits yang mempertanyakan efektivitas. Satu efek mengadopsi QM meskipun adalah bahwa, di samping
reserving yang diambil QM data untuk tujuan audit, beberapa proyek-spesifik kualitas
catatan dipelihara oleh kontraktor yang potensial digunakan untuk klien dan tim desain untuk
pemantauan dan pengendalian proyek / kinerja organisasi. Begitu juga, QM data
oleh klien atau konsultan, e.g. status pembayaran, juga dapat menguntungkan kontraktor melalui
peningkatan arus kas prediksi.
Bersamaan dengan perkembangan dalam QM, telah upaya untuk meningkatkan komunikasi
antara peserta. Sejak proyek-proyek pembangunan yang kompleks, dinamis dan
heterogen, miskin komunikasi dapat menyebabkan masalah besar. Sebagai industri
laporan mengatakan, "komunikasi efektif dengan tim proyek dan menutup keterlibatan
klien dari seluruh proyek proses pengiriman memfasilitasi kelancaran proyek
pelaksanaan "(Tang, 2001), karena membantu meminimalkan kesenjangan antara harapan klien
dan hasil proyek. Seperti sudah diketahui semua orang, pengembangan Teknologi Informasi
(TI) memiliki potensi besar untuk membantu dalam hal ini dengan membawa semua pemangku kepentingan untuk bekerja sama lebih
efektif dan efisien (misalnya, Baldwin et al, 1999; Deng dkk, 2001) dan terdapat
ada beberapa panggilan untuk industri konstruksi untuk mengadopsi teknologi Internet untuk
informasi transaksi elektronik lain dengan masing-masing dalam cara halus (misalnya, dan Sloan
Rendah, 2000).
Satu kemungkinan, oleh karena itu, adalah untuk dasar terpadu QM pendekatan ini pada teknologi
(Mohamed dan Stewart, 2003) sebagai, dengan menggabungkan proyek-spesifik QM data dari berbagai
peserta proyek, yang menang-menang situasi dapat diwujudkan. Dengan demikian, ini kertas
dikaji implikasi tersebut berbasis internet Terpadu Proyek-berorientasi QM (juga
selanjutnya disebut IPQM) sistem untuk proyek-proyek pembangunan. Dalam melakukan ini, yang relevan
kualitas data yang pertama diidentifikasi. Sebuah kerangka konseptual ini kemudian diusulkan, bersama-sama dengan
cocok prototipe model.
Potensi Internet Technologies untuk digunakan dalam proyek konstruksi
Menurut Kiuchi dan Kaihara (1996), Internet teknologi yang cocok untuk
pembangunan on-line sistem pendataan, sebagai berbasis Internet adalah sebuah sistem
nyaman dan biaya efektif alat untuk mengumpulkan, menyaring, mengelola, dan berbagi data
(Doherty, 1998). Untuk proyek-proyek pembangunan, Internet teknik telah diterapkan untuk
informasi dan manipulasi, seperti untuk mentransfer informasi dari proyek
(Anumba dan Duke, 1997; Faraj dkk, 2000; Mak, 2001), dan pengembangan produk
perpustakaan (Coyne dkk, 2001), dll ini telah membuktikan bahwa pengumpulan dan
sosialisasi real-time kualitas yang berhubungan dengan data-baris kedua adalah layak dan efektif.
Internet sistem juga dapat dikombinasikan dengan perangkat lain keputusan untuk melakukan penilaian
dan mendukung keputusan tugas. Banyak berbasis Internet model telah tipu daya untuk
konstruksi domain, e.g. keputusan untuk investasi (Aydogdu dan Parikh, 1997),
pengadaan pemilihan path (Molenaar dan Songer, 1998), desain dan arsitektur
evaluasi kinerja (Goedicke dan Meyer, 1999), biaya kontrol (Abudayyeh dkk,
2001), bidang pemeriksaan pelaporan (Rojas dan Songer, 1999), model kerja dinamis
(Crowe dan Kydd, 2001), manajemen proyek (Deng dkk, 2001), dll Internet
teknologi, karena itu, jelas memiliki potensi tinggi untuk memberikan yang lebih akurat,
konsisten dan hemat biaya prediksi / penilaian pada kualitas kinerja dan
peningkatan rezim.
QM berbasis elektronik (e-Kualitas) telah diadopsi secara luas di industri TI untuk memastikan
kualitas dibangun ke Internet dan e-commerce proyek (Hane, 1999; Melymuka, 2001). e -
Kualitas juga telah diusulkan untuk aplikasi medis (Kiuchi dan Kaihara, 1996).
Sejalan inisiatif lain termasuk mengubah kualitas cetak manual menjadi Internetbased
kerangka (Macmillan, 1996). Namun, potensi yang penuh e-Kualitas dalam
konstruksi khususnya tentang membuat suatu lingkungan IPQM belum dapat direalisasikan.
Proyek-berorientasi kualitas informasi
Hal ini diperlukan untuk berbasis internet QM sistem untuk proyek-proyek pembangunan yang akan dioperasikan
pada dua tingkatan: (i) proyek (mikro) tingkat, dan (ii) organisasi (Meso) tingkat. Pada proyek
tingkat, relevan QM data dapat ditukarkan antara para pemangku kepentingan (Gambar 1). Ini akan
memungkinkan nasabah untuk memeriksa kontraktor kepatuhan pada acak atau secara berkala, dengan cara
yang mirip dengan banyak dari manual audit prosedur dalam operasi saat ini.
Senada dengan itu, kontraktor tersebut mungkin akan memeriksa kualitas data yang relevan dari klien dan konsultan,
kemajuan seperti pembayaran, status pada penerbitan petunjuk, dll Tidak hanya harus ini
tentang meningkatkan transparansi QM seluruh proses di tingkat proyek tetapi juga, seperti kualitas
catatan yang disimpan dalam cara yang sistematis, penyebab dan waktu cacat atau masalah
harus dengan mudah dapat dilacak oleh para pemangku kepentingan apapun.
Pada tingkat organisasi, e-Kualitas sistem harus menyediakan informasi penting
kepada badan-badan sertifikasi, audit independen teknis, klien QM tim audit internal,
dll (Gambar 2). Informasi terkait yang relevan untuk semua proyek yang dilakukan oleh organisasi
akan diringkas. Sistem ini memungkinkan badan sertifikasi untuk memeriksa
kesesuaian dari suatu organisasi on-line dan melakukan pemeriksaan acak atau spot setiap saat.
Ini membantu mencegah kecurangan dari organisasi dengan melengkapi formulir di QM waktu
audit.
Proyek-integrasi berorientasi QM kerangka
Wawancara dilakukan dengan para ahli untuk menentukan domain yang paling cocok
konseptual kerangka untuk mewakili diusulkan IPQM model, dan kerangka dasar
terdiri dari lima komponen: (i) entri data, (ii) verifikasi data, (iii) penilaian, (iv)
keamanan, dan (v) pelaporan.
Memungkinkan data entry (a) pengguna terdaftar seperti klien, konsultan, kontraktor,
sub-kontraktor dan pasokan ke pos mereka QM diagnosa; (b) untuk pengguna terdaftar
mengajukan proyek-data spesifik QM; (c) keterangan atau badan akreditasi untuk memasukkan
kriteria penilaian dan persyaratan melalui antarmuka berbasis web, dan (d)
organisasi disetujui untuk mendaftar sebagai pengguna dari sistem.
Verifikasi data bertujuan untuk memastikan keabsahan data yang diperoleh. Sebuah potensi masalah
Internet manapun berbasis sistem adalah data yang dapat diajukan dari sumber apapun, dan ada
bahaya yang mungkin data tidak valid. Oleh karena itu, semua data mentah yang diperoleh akan dievaluasi oleh
kualitas auditor independen atau review panel dapat diterima untuk industri.
Penilaian kinerja yang baik atau tidak (i) baru QM sistem harus diakreditasi dan
(ii) atau apakah tidak memiliki sebuah organisasi complied dengan persyaratan dari ISO
standar dan mereka sebagaimana tercantum dalam kualitas manual dari organisasi. Sejak
organisasi mungkin akan mengalami kesulitan dalam membentuk satu dasar untuk menentukan keberhasilan
atau untuk membandingkan dengan tahun lalu kinerja (Krizan, 1999), model penilaian yang cocok
terkait untuk pembangunan sistem QM diperlukan.
Keamanan bertujuan untuk memastikan bahwa informasi sensitif organisasi tidak akan divulged
dikeluarkan atau tidak relevan untuk pengguna dari sistem. Internet berbasis sistem harus memiliki
langkah-langkah keamanan yang ketat untuk mencegah hacker dari mengakses informasi sensitif. Ini
menentukan modul apa yang dibuat untuk informasi yang tersedia dalam badan
sistem melalui berbagai langkah-langkah keamanan.
Pelaporan menyediakan informasi yang diperlukan untuk pengguna melalui antarmuka berbasis web.
Informasi terkait ke proyek tingkat termasuk status pembayaran dan instruksi,
dll Seperti sudah diketahui semua orang, efektif QM tidak hanya terfokus pada proses produksi tetapi
juga terfokus pada pelanggan-berorientasi proses seperti operasi. Pelanggan yang berorientasi
berkaitan dengan proses pembangunan pos QM seperti umpan balik dan kesalahan / cacat dan kontrol
perlakuan (termasuk alih laporan untuk mencerminkan status operasi awal untuk mulai
posting konstruksi perjalanan) dan kesalahan / cacat atau tdk puas laporan laporan (UR) untuk mencerminkan
kondisi yang tidak normal untuk meminta dukungan dan layanan yang biasanya diperlukan melalui
dukungan dan analisa ahli dari luar. Kegiatan ini dapat dilaksanakan secara efektif
oleh Internet / Extranet untuk menghemat waktu dan memperbaiki kesalahan, menelusuri dan melacak masalah
memperlakukan proses untuk mensukseskan dukungan dan layanan. Biasanya, sebuah tim ahli harus
mandiri menjalankan kesalahan / masalah / kesulitan proses pengambilan gambar. Internet alat dapat
Karena itu juga membantu memproduksi dan mengelola pasca konstruksi manajemen mutu
laporan berkala bersama dengan kualitas produksi audit untuk menyelesaikan sebuah catatan sejarah
merekam seluruh siklus hidup dari proyek.
Model prototipe
Saat ini IPQM prototipe yang dikembangkan menggunakan perangkat lunak dan bundel
bahasa pemrograman termasuk Dreamweaver ™; Api ™; Flash ™; MySQL ™
(Versi Linux ™); hypertext markup language (HTML); hypertext preprocessor (PHP);
Standar dan Permintaan Bahasa (SQL).
Gambar 4 menunjukkan dari situs e-Kualitas model. Sebelum menggunakan model untuk
atau merekam data mengambil QM, semua proyek yang relevan peserta diminta untuk mendaftar dengan
sistem. Berbagai jenis perusahaan dan pengguna akan diberikan akses yang berbeda tingkat
dan wewenang. Sebagai contoh, klien akan diizinkan untuk mengakses sebagian besar projectoriented
QM data tercatat oleh kontraktor dan konsultan, dan ini akan memungkinkan
klien untuk tetap memantau kinerja proyek peserta serta proyek
sendiri. Sebaliknya, sub-kontraktor hanya akan dapat untuk mengambil beberapa informasi terkait
(misalnya inventarisasi dan penyimpanan bahan) dari kontraktor utama.
Proyek pendaftaran tidak hanya menangkap fakta-fakta penting proyek, seperti proyek
Jenis, dan diperkirakan jumlah sebenarnya dan durasi proyek, Dilikuidasi kerusakan, pengadaan
metode, dll, tetapi juga mencatat kunci dan organisasi yang terlibat. Setelah
ditetapkan pihak kontraktor yang memungkinkan sistem untuk menentukan siapa yang harus diberikan
akses untuk memanipulasi QM data yang terkait untuk proyek tertentu. Proyek rincian
akan, di satu sisi menjadi informasi perpustakaan umum, sementara di sisi lain
memfasilitasi dukungan keputusan jika digabungkan dengan informasi QM.
QM masuknya data ini kemudian dilakukan oleh setiap organisasi yang terlibat dalam proyek.
Standar QM tersedia dalam bentuk e-Kualitas model untuk meningkatkan konsistensi.
Pengguna dapat memilih bentuk yang diperuntukkan diindeks menurut empat tahap
dari proyek siklus hidup yaitu desain, tender, konstruksi dan operasi. Itu
Borang yang lengkap dapat diserahkan ke IPQM sistem online. QM data yang akan
berada di server berbasis sistem manajemen database - MySQL ™.
Kesimpulan
Di masa lalu, praktek QM dalam proyek-proyek pembangunan telah hampir seluruhnya
melestarikan perusahaan yang bersangkutan dengan catatan QM sehingga karena menunjukkan taat
QM prosedur yang diperlukan. Oleh itu, telah mencukupi penyebaran projectbased
QM informasi di antara pihak yang terlibat dalam mata rantai suplai untuk saling
pemantauan dan perbaikan kembali-blok. Akibatnya, kepuasan pelanggan dan terus menerus
perbaikan belum berkelanjutan.
IPQM model yang diusulkan dalam kertas kerja ini bertujuan untuk memfasilitasi distribusi yang relevan
QM catatan untuk proyek lain peserta melalui Internet. Peningkatan
penyebaran berguna proyek-data yang berorientasi QM cara ini tidak hanya akan membantu proyek
anggota tim untuk mengatur dan mengawasi sebuah proyek pembangunan, tetapi juga dapat digunakan sebagai
sebuah alat untuk meningkatkan administrasi yang sehari-hari operasi dan / atau memberikan catatan resmi
dalam kasus sengketa dan klaim kontrak timbul. Ini harus memberikan peningkatan dalam
keseluruhan produk / layanan standar dari semua anggota tim proyek serta kualitas
konstruksi proyek.
Sebuah kerangka konseptual yang terdiri dari lima komponen yaitu (i) entri data, (ii) data
verifikasi, (iii) penilaian, (iv) keamanan, dan (v) pelaporan yang dilaporkan. Berdasarkan
kerangka konseptual, sebuah prototipe model IPQM disajikan menggunakan Internet
teknologi. Prototipe yang memungkinkan QM catatan untuk masukan oleh pengguna terdaftar, dan
terkait proyek-berorientasi QM informasi yang diambil oleh model untuk mendukung keputusan.
Pekerjaan yang dijelaskan di sini bukti jelas menawarkan potensi untuk penggunaan Internet
teknologi dalam mengembangkan sebuah sistem implementable IPQM, dan menunjukkan bahwa sebuah bahkan
lebih komprehensif sistem mungkin attainable. Juga, bearing bahwa extranet adalah
menjadi semakin populer di kedua manufaktur (Anandarajan dkk, 1998; Tang dan
Lu, 2002) dan konstruksi (Bender dan Septelka, 2002; Alshawi dan Ingirige, 2003)
industri, yang jelas ada kesempatan untuk migrasi ke sistem extranet lingkungan
(Yaitu jembatan antara Internet umum dan perusahaan swasta intranets). Keduanya
pembangunan ini akan muncul layak untuk penelitian lebih lanjut.

22043689

QUALITY MANAGEMENT IN SYSTEMS DEVELOPMENT: AN ORGANIZATIONAL SYSTEM PERSPECTIVE

Penulis: T. Ravichandran, Arun Rai
Sumber : MIS Quarterly Vol. 24 No. 3, pp. 381-415/September 2000
Rangkuman ditulis oleh Kelompok 148 Seminar C 2006
Beberapa kata kunci:
TQM (Total Quality Management), software quality, system development, process management.
Masalah yang dibahas dan tujuan penulisan
Kebanyakan dari penelitian-penelitian mengenai kualitas perangkat lunak lebih fokus terhadap masalah-masalah teknis atau yang berhubungan dengan engineering. Dalam awal pembahasan, penulis merangkum literatur yang pernah membahas mengenai kualitas pengembangan perangkat lunak. Literatur tersebut memiliki empat bahasan utama yaitu:
1. Software quality measurement and control (pengukuran dan kontrol kualitas perangkat lunak).
2. Peran dari infrastruktur mencakup metodologi dan tools yang digunakan dalam pengembangan perangkat lunak.
3. Manajemen dalam proses pengembangan perangkat lunak.
4. Proses desain yang partisipatif.
Penulis berargumen bahwa terdapat faktor yang tidak boleh dipisahkan ketika mengkaji
tentang kualitas perangkat lunak yaitu sistem organisasi (organizational system) yang
mempengaruhi proses pengembangan perangkat lunak. Belum ada penelitian yang
membahas secara khusus hubungan sistem organisasi ini dengan kualitas pengembangan
perangkat lunak.
Artikel ini membahas mengenai manajemen kualitas pada software development atau
pengembangan perangkat lunak dikaitkan dengan sistem organisasi. Studi ini
mengidentifikasi beberapa faktor yang bersifat organizational yang ternyata memiliki
pengaruh dalam kualitas pengembangan sistem.
Faktor tersebut adalah:
1. kepemimpinan manajer tinggi (top management leadership)
2. infrastruktur manajemen
3. keampuhan manajemen proses (process management efficacy)
4. partisipasi stakeholder.
Penulis mengajukan model untuk menggambarkan hubungan antara faktor-faktor ini
dengan kualitas sistem yang dihasilkan.

Metode penelitian
Penulis membuat suatu model yang menggambarkan hubungan antara faktor-faktor yang
bersifat organizational terhadap kualitas pengembangan perangkat lunak. Model ini diuji
kebenarannya dengan menggunakan metode Partial Least Squares analysis methodology.
Model ini dan hasil uji yang dilakukan dijelaskan pada bagian pemodelan.
Data
Penelitian ini dilakukan dengan menyebarkan kuesioner melalui email kepada beberapa
manajer IS. Selain itu, data juga diambil dari survey nasional terhadap manajer IS di
perusahaan Fortune 1000.
Pemodelan
Faktor kunci atau key construct dalam sistem organisasi yang dikatakan mempengaruhi
kualitas pengembangan perangkat lunak dapat dilihat pada tabel berikut:

Key Constructs of a Quality Oriented Organizational System

Macro Organization Elements of a Quality
Design Variables Oriented Organizational System
- Leadership, Top Management Leadership for Quality
- Structure, Management Infrastructure
- Process, Process Management and Stakeholder Participation
- Outcome, Quality Performance

Masing-masing elemen memiliki aspek yang lebih kecil misal Quality Performance
mencakup kualitas produk dan efisiensi proses pembuatannya. Lengkapnya dapat dilihat
pada lampiran.
Penjelasan singkat mengenai elemen dalam tabel 1 adalah sebagai berikut:
· Top Management Leadership for Quality artinya adalah dorongan dari manajer
tingkat atas untuk menekankan pada kualitas, wujudnya antara lain adalah visi
organisasi.
· Management Infrastructure adalah infrastruktur untuk mendukung visi, berupa
aktivitas (contohnya adalah pelatihan untuk meningkatkan keterampilan personel)
atau aturan (policies).
· Process Management adalah proses pengembangan produk, mencakup bagaimana
mengeliminasi hal-hal yang berpotensi menimbulkan ketidakpuasan konsumen.
· Stakeholder Participation adalah partisipasi dari konsumen, vendor dan
pengembang yang mendorong terciptanya “kesepahaman” atas kebutuhan sistem.
· Quality Performance mencakup tidak hanya kualitas produk tetapi juga biaya
serta waktu yang diperlukan untuk membuatnya.Hasil selengkapnya mengenai
korelasi antara faktor-faktor ini dijelaskan dengan gambar yang terdapat pada
lampiran.

Kesimpulan
Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa pengembangan perangkat lunak yang
mengutamakan kualitas bisa dicapai ketika top management menciptakan infrastruktur
manajemen yang mendukung terciptanya manajemen proses yang baik serta peran aktif
dari para stakeholder. Artinya, dalam pengembangan perangkat lunak, manager harus
fokus terhadap faktor-faktor yang bersifat organizational yang diidentifikasi dalam studi
ini, tidak hanya fokus terhadap masalah teknis dan engineering.

Beberapa Referensi
Abdel-Hamid, T. “The Economics of Software Quality Assurance: A Simulation-Based
Case Study,” MIS Quarterly (12:3), September 1988, pp.394-411.
Adler, P. S. “CAD/CAM: Managerial Challenges and Research Issues,” IEEE
Transactions on Engineering Management (36:3), 1989, pp. 202-215.
Blackburn, R., and Rosen, B. “Total Quality and Human Resources Management:
Lessons Learned from Baldrige Award Winning Companies,”Academy of Management
Executive (7:3), 1993, pp. 49-66.
Checkland, P., and Scholes, J. Soft Systems Methodology in Action, John Wiley and Sons,
Chichester, UK, 1990.
Garvin, D. A. “The Process of Organization and Management,” Sloan Management
Review (39:4), Summer 1998, pp. 33-50.